Sejarah Pelabuhan Gresik Tempoe Doeloe

  • Share
Foto dermaga pelabuhan Gresik tempoe doeloe -Ingen, H. van . (dok: universiteitleiden.nl)

Sejarah Gresik – Pelabuhan Gresik adalah salah satu ikon kota Gresik Tempoe doeloe, karena disinilah banyak tercipta sebuah sejarah dari kota Grisse atau sekarang dikenal dengan nama Gresik. dimana di sinilah pada jaman dahulu menjadi pusat perdagangan dunia yang sangat terkenal di seantero jagad.

Salah satu tokoh terkenal yang sangat berpengaruh pada perkembangan perdagangan di kota Gresik yaitu Nyai Ageng Pinatih. Beliau seoraang saudagar kaya yang merupakan Syah Bandar di Pelabuhan Gresik yang menguasai proses perdagangan yang ada di Pelabuhan Gresik.

Sejarah pelabuhan gresik di mulai sekitar abad ke-16 M di mana pada saat itu Pelabuhan Gresik dapat menggeser peran dari pada Pelabuhan Tuban, hal ini di buktikan dengan ketertarikan kapal-kapal asing untuk mendarat di pelabuhan Gresik daripada Pelabuhan Tuban.

Perbatasan Gresik dan Surabaya (dok: universiteitleiden.nl)
Perbatasan Gresik dan Surabaya (dok: universiteitleiden.nl)

Pada awal abad ke-17 M pelabuhan Gresik tetap berperan sebagai pelabuhan besar dan utama diantara pelabuhan-pelabuhan lain disekitarnya. Namun kebesaran Pelabuhan Gresik tidak seperti sebelumnya, karena pada masa itu politik ekspansi Sultan Agung sudah mengarah ke Gresik dibantu Pangeran Pekik dari Surabaya.

Pada tahun 1625 M dua pelabuhan di Gresik dikelola oleh dua orang syahbandar yang diangkat oleh penguasa Surabaya. Syahbandar utama berkedudukan di Gresik, sedangkan di Jaratan ditempatkan seorang syahbandar muda. Syahbandar muda di Jaratan dikenal dengan julukan Ence Muda, seorang keturunan Cina, istrinya seorang putri Beng-Kong, pemimpin penduduk Betawi saat itu.

Walaupun ada sedikit kemunduran, namun sampai awal abad ke-17 M di pelabuhan Gresik masih nampak adanya aktifitas produksi kapal bermuatan 10 sampai 100 ton, digunakan untuk berlayar ke Maluku dan sekitarnya.

Selain itu juga disediakan fasilitas untuk kapal dari luar yang membutuhkan perbaikan. Pelayaran menuju pulau rempah-rempah (Maluku) masih menjadi prioritas utama.

Para pedagang Gresik dan Banda mengadakan hubungan pelayaran dan perdagangan dengan baik. Dalam hubungannya dengan Maluku, pelabuhan Gresik sangat berperan penting, karena disinilah orang-orang Ternate dan Tidore berlabuh, selain untuk berdagang juga pergi ke pesantren Giri untuk memperdalam ilmu agama Islam.

Pada tahun 1612 M Kerajaan Giri sudah kehilangan wibawanya menyusul pergantian kekuasaan dari Sunan Prapen (Giri IV) pada penguasa berikutnya yaitu Panembahan Kawisguwa pada tahun 1605 M.

Pengganti Sunan Prapen tidak lagi bergelar sunan tapi panembahan. Kata “Sunan” berasal dari singkatan “susuhunan” berarti yang dijunjung tinggi. Suhun sendiri berarti dijunjung di atas kepala atau tempat memohon sesuatu. Disinilah kekuasaan kharismatik akan memperkuat kekuasaan politik, ekonomi, dan sosial bila seseorang menyandangnya.

Pemandangan Gresik , A. de Nelly (mogelijk), 1775 - 1780
Lukisan Pemandangan Gresik , A. de Nelly (mogelijk), 1775 – 1780

Terdapat berita tentang kemunduran aktifitas pelabuhan Gresik. Berita ini dikemukakan oleh J.P. Coen yang pernah singgah di Gresik pada tahun 1613 M.

Dalam berita itu disebutkan bahwa kemunduran ini disebabkan oleh VOC yang berhasil mendirikan kantor dagangnya sebagai pusat eksploitasi di Gresik pada tahun 1603 M, juga Mataram dengan politik ekspansinya dibawa komando Sultan Agung.

Diceritakan pula bahwa pada saat itu kota Gresik telah terbakar dan mengalami kerusakan berat, penduduk banyak menyingkir ke pedalaman. Menurut warga setempat bahwa empat belas hari sebelum J.P. Coen datang Giri-Gresik diserang oleh Mataram.

Sumber artikel : shipsapp

Berikan Komentar Anda

  • Share