Seorang Anak Stunting Meninggal Dunia di Gresik

Seorang Anak Stunting Meninggal Dunia di Gresik

Gresik – Pandemi Covid-19 juga berdampak terhadap krisis sosial dan ekonomi. Tingkat kemiskinan meningkat. Tidak terkecuali di wilayah Kabupaten Gresik. Kondisi itu sangat berpotensi menambah jumlah balita mengalami stunting akibat kurang gizi. Karena itu, mesti mendapatkan atensi lebih.

Kamis (8/9/2021), seorang balita kurang gizi atau stunting di salah satu desa wilayah Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, meninggal dunia diduga karena stunting. Balita tersebut berusia 3 tahun 6 bulan. Idealnya, anak seusia itu memiliki berat badan berkisar 12 kilogram. Namun, bayi bersangkutan hanya berbobot 4,2 kilogram.

Mashuda, kepala desa setempat, ketika dikonfirmasi tidak menampik kejadian tersebut. Dia menyebut, bayi itu memang berasal dari keluarga yang terbilang kurang mampu. Namun, selama ini pihak pemerintah desa dan kecamatan sudah tidak kurang-kurang memberikan perhatian terhadap kondisi anak tersebut.

Baca Juga  Gresik Terus Memacu Akselerasi Penyuntikan Vaksinasi Covid-19

‘’Perhatian kami terbilang sudah luar biasa. Termasuk bidan desa, sewaktu-waktu rutin melakukan kunjungan ke rumah warga. Bahkan, dini hari sekalipun,’’ ujarnya, Kamis (9/9/2021).

Anak bersangkutan, lanjut dia, juga sudah pernah dirawat ke layanan kesehatan. Termasuk ke RSUD dr Soetomo, Surabaya. Namun, ternyata takdir berkata lain. Anak tersebut kondisinya memang demikian dan akhirnya tidak berumur panjang.

‘’Obat tidak bisa masuk. Kalau sudah begitu, kita bisa apa lagi? Pihak desa turut berduka cita. Yang jelas, selama ini kami sudah berikhtiar dengan kuat,’’ ucap Mashuda.

Sama dengan kabupaten/kota lain, sejauh ini Kabupaten Gresik juga masih menyisakan pekerjaan rumah kasus anak stunting. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pemprov Jatim per 2020, dari jumlah bayi usia 0-59 bulan sebanyak 32.720, ada 1.526 anak (4,7 persen) yang kurang gizi, balita pendek 2.465 (7,5 persen), dan balita kurus 1.622 (4,9 persen). Persentase itu lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata di Jatim.

Baca Juga  Berikan Reward Untuk Bank Sampah, Bupati Komit akan Kurangi penggunaan Sampah Plastik

Status gizi balita di sebuah daerah menjadi salah satu indikator keberhasilan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Status gizi itu diukur berdasarkan umur, berat badan, tinggi badan. Ketiga variabel itu disajikan dalam bentuk indikator antropometri. Yakni, berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).

Nah, pada masa pandemi Covid-19 berkepanjangan seperti sekarang, tentu berpotensi memicu peningkatan jumlah anak stunting. Angka kemisksinan bertambah, membuat keluarga tidak sanggup memenuhi kecukupan gizi anak. Tidak terkecuali di Kabupaten Gresik. Berdasarkan data dari Bappeda Gresik, pada 2019, angka kemiskinan di Gresik sebanyak 11,35 persen. Dampak pandemi, pada 2020 melonjak menjadi 12,4 persen.

Baca Juga  Hutan Amazon Bukan Paru-paru Dunia, Ini Penjelasan Pakar

Kasus stunting juga mendapat perhatian serius Presiden RI Joko Widodo. Pada 5 Agustus 2021 lalu, Presiden mengeluarkan Perpres Nomor 71 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Bahkan, Perpres itu juga memberikan amanat kepada Wapres KH Makruf Amin sebagai ketua pengarah. Tidak hanya anak berusia 0-59 bulan saja yang menjadi sasaran, melainkan juga remaja, calon pengantin, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Sumber: Jawapos.com

Berikan Komentar Anda