Siasat Raja Brawijaya Agar Rakyat Gresik yang Muslim tidak Berontak

  • Bagikan
ilustrasi/ist

ADA ganjalan di hati Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik . Pasalnya, ketika beliau berhasil mengislamkan sebagaian besar rakyat Gresik yang bagian dari wilayah Kerajaan Majapahit , sementara Raja Brawijaya penguasa Majapahit masih beragama Hindu. Beliau khawatir jika seluruh warga Gresik menjadi muslim maka timbul ketegangan antara rakyat dengan rajanya.

Buku “Kisah dan Ajaran Wali Sanga” karya H Lawrens Rasyidi menceritakan untuk menghindari hal itu maka Syaikh Maulana Malik Ibrahim mempunyai rencana mengajak Raja Brawijaya untuk masuk agama Islam.

Hal itu diutarakan kepada sahabatnya yaitu Raja Cermain. Ternyata Raja Cermain juga mempunyai maksud serupa. Sudah lama Raja Cermain ingin mengajak Prabu Brawijaya masuk agama Islam.

Cerita ini berbeda dengan cerita lokal masyarakat Gresik. Syaikh Maulana Malik Ibrahim disebutkan datang mendakwahkan Islam pada Raja Majapahit dengan Raja Gedah .

Hal ini tercatat dalam Babad Gresik I karya Soekarman. “Maulana Mahpur dan Maulana Malik Ibrahim masih bersaudara dengan Raja Gedah (Kedah Malaysia). Mereka berlayar ke Jawa untuk menyebarkan agama sambil berdagang. Mereka berlabuh di Gerwarasi atau Gresik pada 1293 J / 1371 M.

Baca Juga  KRI Hang Tuah: Kapal Bekas Perang Dunia II yang Dibom Permesta

Soekarman juga menulis, Sang Raja menyambut baik kedatangan mereka tetapi belum berkenan masuk Islam. Lalu Maulana Malik Ibrahim diangkat oleh Raja Majapahit menjadi Syahbandar di Gresik dan diperbolehkan menyebarkan agama Islam pada siapa yang mau.

Babad Gresik I juga menyebutkan bahwa Raja Gedah bahkan memberikan tawaran akan menikahkan Raja Brawijaya tersebut dengan putrinya yang cantik bernama Dewi Siti Suwari dan memberikan buah Delima. Namun Raja Brawijaya tetap menolak untuk masuk Islam

Lain lagi yang diceriakan Lawrens Rasyidi. Ia menyebut pada tahun 1321 M Raja Cermain datang ke Gresik disertai putrinya yang cantik rupawan. Putri Raja Cermain itu bernama Dewi Sari, tujuannya dalam misi tersebut adalah untuk memberikan bimbingan kepada para putri istana Majapahit mengenal agama Islam.

Baca Juga  Sejarah Pelabuhan Gresik Tempoe Doeloe

Bersama Syaikh Maulana Malik Ibrahim rombongan dari negeri Cermain itu menghadap Prabu Brawijaya. Usaha mereka gagal. Prabu Brawijaya bersikeras mempertahankan agama lama dengan ucapan yang diplomatis. Bahwa dia bersedia masuk Islam bila Dewi Sari bersedia dipersuntingnya sebagai istri. Dewi Sari menolak dengan dalih tidak ada gunanya masuk Islam bila ditunggangi dengan kepentingan duniawi. Beragama seperti itu hanya akan merusak keagungan agama Islam.

Rombongan dari negeri Cermain lalu kembali ke Gresik. Menurut Lawrens Rasyidi, mereka kemudian beristirahat di Leran sembari menunggu selesainya perbaikan kapal untuk berlayar pulang.

Sungguh sayang sekali, selama beristirahat di Leran itu banyak anggota rombongan dari negeri Cermain yang diserang wabah penyakit. Banyak di antara mereka yang tewas, termasuk Dewi Sari.

Baca Juga  Sejarah Gas Air Mata, Pertama Kali Digunakan dalam Perang 1914

Kabar kematiannya Dewi Sari terdengar ke telinga Prabu Brawijaya. Raja Brawijaya memerintahkan kepada para ponggawa kerajaan untuk menggali kubur dan memakamkan Dewi Sari dengan upacara kebesaran. Di desa Leran itulah Dewi Sari dikuburkan.

Setelah rombongan dari negeri Cermain meninggalkan pantai Leran maka Prabu Brawijaya menyerahkan seluruh daerah Gresik kepada Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk diperintah sendiri di bawah kedaulatan Majapahit.

Penyerahan daerah itu adalah siasat dari sang Raja agar rakyat Gresik yang beragama Islam itu tidak memberontak kepada rajanya yang masih beragama Hindu .

Amanat raja Majapahit itu diterima Syaikh Maulana Malik Ibrahim dengan suka rela. Sesuai dengan ajaran Islam yang menganjurkan perdamaian walaupun dengan kafir zimmi yaitu orang-orang bukan muslim yang mau hidup bersampingan dengan aman dalam satu negara.

Sumber: Kalamsindonews

Berikan Komentar Anda
  • Bagikan