Kasus Perceraian di Gresik Meningkat Selama Pandemi Covid-19

Gresik – Pengadilan Agama (PA) Gresik mencatat angka perceraian mengalami peningkatan selama pandemi Covid-19.

Humas PA Gresik Sofyan Jefri mengatakan, peningkatan jumlah perceraian tersebut seiring dengan permohonan dispensasi nikah.

Berdasarkan data dari PA Gresik, tercatat 2.431 kasus gugatan perceraian yang masuk selama 2020. Sedangkan pada 2021, tercatat 1.277 gugatan perceraian yang sudah terdaftar hingga Juni.

“Tingginya angka pernikahan di bawah umur itu berbanding lurus dengan perceraian,” ujar Sofyan saat dihubungi, Selasa (29/6/2021).

Sofyan menjelaskan, peningkatan permohonan dispensasi nikah dan perceraian tersebut secara otomatis turut mempengaruhi tingkat kasus yang ditangani oleh PA Gresik.

Sebelum pandemi Covid-19, PA Gresik biasa menangani maksimal 2.900 kasus dalam setahun. Selama pandemi, PA Gresik menangani lebih 3.000 kasus dalam setahun.

Baca Juga  Gus Yani Bawa Refill Oksigen Medis untuk Posko Darurat di Bawean

“Kalau sebelum pandemi itu kami biasa menangani 2.800-2.900 perkara setahun. Pada 2020 lalu itu sampai 3.036, tapi tidak semuanya cerai. Itu seluruh perkara yang ditangani oleh PA Gresik,” ucap Sofyan.

Menurut Sofyan, meningkatnya gugatan perceraian yang didaftarkan ke PA Gresik dipengaruhi pernikahan usia muda.

Sebab, banyak pasangan yang menikah usia muda mengajukan gugatan cerai meski belum lama menjalani pernikahan.

Meski begitu, Sofyan mengaku, tak bisa membatasi perkara yang masuk. Hal itu merupakan tugas PA Gresik untuk melayani masyarakat.

Hanya saja, PA Gresik berusaha agar peningkatan gugatan itu bisa ditekan dengan proses mediasi dan konseling.

“Kalau pembatasan kami tidak bisa lakukan. Karena berkaitan dengan pelayanan, tentu akan kurang baik. Namun kami sudah bekerjasama dengan beberapa pihak, siap memfasilitasi supaya angka ini bisa ditekan,” kata Sofyan, yang juga seorang hakim di PA Gresik.

Baca Juga  UPDATE Covid-19 Gresik 27 Maret 2020

Selama pandemi Covid-19, PA Gresik terus menerapkan protokol kesehatan selama proses registrasi gugatan hingga persidangan.

Selain itu, ada beberapa kebijakan yang dibuat dalam mendukung penerapan protokol kesehatan.

“Kami menerapkan pembatasan ruang tunggu. Ada ruang tunggu luar dan dalam, sama ruang tunggu utama saat pendaftaran dan sidang. Jadi tetap kami fasilitasi, apalagi perkara juga sedang lagi banyak-banyaknya sekarang ini,” tutur Sofyan.

Sumber: Kompas.com

Berikan Komentar Anda