
Berita Gresik – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank membina Desa Wedani, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur menjadi Desa Devisa Tenun Gresik. Kali ini LEI bersinergi dengan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Gresik dan Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perindang (Diskoperindag) Kabupaten Gresik, untuk mengembangkan potensi desa penghasil sarung tenun tersebut.
Direktur Eksekutif LPEI James Rompas mengatakan, program Desa Devisa yang dimiliki LPEI bertujuan untuk membangun dan meningkatkan potensi suatu kawasan yang memiliki produk unggulan berorientasi ekspor, diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat mencapai kondisi sosial-ekonomi-budaya yang lebih baik dan juga menghasilkan devisa dari kegiatan usaha yang dilaksanakan secara berkesinambungan.
“Dengan diresmikannya Desa Devisa Tenun Gresik, Desa Wedani menjadi desa ke-24 yang mengikuti Program Desa Devisa LPEI sehingga total penerima manfaat dari program ini telah mencapai 2.774 orang petani/penenun dan ditargetkan akan terus bertambah di tahun-tahun berikutnya,” kata James Rompas dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/11).
Saat ini terdapat 1.500 orang penenun perempuan memproduksi sarung tenun ATBM (alat tenun bukan mesin) yang tergabung dalam kelompok penenun Koperasi Wedani Giri Nata (WGN). Sarung tenun ATBM Desa Wedani merupakan komoditi unggulan dari Desa Devisa Tenun Gresik yang mencerminkan kearifan lokal dengan memiliki unsur kebudayaan setempat.
Melalui Program Desa Devisa, LPEI akan berkolaborasi dengan sejumlah institusi pusat dan daerah untuk memberikan pendampingan pada aspek kelembagaan, produksi hingga akses pasar kepada anggota maupun pengurus Koperasi Wedani Giri Nata.
Adapun kapasitas produksi sarung tenun dari Desa Wedani saat ini mencapai 146.400 lembar sarung perbulannya. Dengan adanya Program Desa Devisa ini, ditargetkan di Semester I-2022 Koperasi WGN sudah dapat melakukan ekspor perdana dan produk yang dihasilkan pun sudah mematuhi standar internasional.
Program Desa Devisa sendiri dimulai sejak tahun 2019 dengan Desa Devisa Kakao di Jembrana, Bali menjadi Desa Devisa pertama yang memiliki komoditas unggulan berupa biji kakao yang difermentasi. Selanjutnya Desa Devisa Kerajinan di Bantul, Yogyakarta dengan produk kerajinan ramah lingkungan yang telah mampu melakukan ekspor secara berkelanjutan ke Eropa.
Hingga November tahun 2021 LPEI sudah meresmikan tiga desa devisa yaitu Desa Devisa Agrowisata Ijen Banyuwangi, Kopi Subang, dan Tenun Gresik. “Melalui Program Desa Devisa produk lokal Indonesia dapat mendunia serta memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi, sosial dan lingkungan bagi masyarakat setempat. Oleh karena itu kedepannya LPEI terus akan bersinergi membangun desa-desa melalui Program Desa Devisa,” pungkas James Rompas.
Sumber:




