Mengenal Apa Itu Bipang Ambawang dan 4 Makanan Khas Daerah yang Direkomendasikan Jokowi

1. Gudeg Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dikenal sebagai kota gudeg, masakan yang berasal dari nangka muda yang bercita rasa manis.

Melansir Kompas.com (26/4/2019), gudeg biasa disajikan dengan lauk pendamping, mulai dari tahu dan tempe bacem, ayam atau telur opor, hingga krecek.

Sebagai sentuhan terakhir, gudeg disiram dengan kuah areh dari santan kental berbumbu.

Sebelum menjadi ikon kuliner di Yogyakarta, gudeg sudah ada sejak abad XV.

Pada zaman Kerajaan Mataram Islam, wilayah itu sedang dalam tahap pengembangan di alas Mentaok yang masih berupa hutan belantara.

Ratusan prajurit diturunkan untuk membuka lahan dengan menebang pohon-pohon di kawasan tersebut.

Kebanyakan pohon yang ditebang adalah pohon kelapa dan pohon nangka.

Baca Juga  Wanita Cantik Asal Gresik Jadi Muncikari Prostitusi Online, Temannya Dibanderol Rp 2,5 Juta/Jam

Agar tak terbuang sia-sia, nangka itu pun diolah dan dinamakan ‘hangudek’ yang kemudian jadi cikal bakal gudeg.

2. Bandeng Semarang

Duri bandeng tidak lagi jadi halangan kita untuk menikmati olahan Bandeng.

Di Semarang, kita bisa membeli bandeng presto yang kini jadi oleh-oleh khas kota Semarang.

Melansir Kompas.com (22/4/2018), dalam 100 gram bandeng terkandung protein sekitar 17,1 gram per 100 gram, serta mengandung lemak tidak jenuh.

Bandeng merupakan pilihan makanan bergizi, yang baik untuk ibu hamil dan mencegah depresi.

3. Siomay Bandung

Dilansir dari Kompas.com (1/2/2011), siomay Bandung adalah sajian yang terinspirasi shumai, makanan khas dari China.

Siomay Bandung berbahan dasar ikan tenggiri dengan tepung tanpa dibalut kulit pangsit.

Baca Juga  Polres Gresik melakukan Pencegahan Covid-19

Sebagai pelengkap, siomay disajikan dengan sambal kacang dan tambahan lain, seperti telur rebus, kubis rebus, pare, kentang dan telur rebus.

4. Empek-empek Palembang

Masih dari sumber yang sama (6/10/2020), awalnya empek-empek disebut dengan kelesan, panganan adat di dalam Rumah Limas dalam adat Palembang.

Pempek mulanya dibuat oleh orang asli Palembang, kemudian dikenalkan ke orang Tionghoa yang ada di palembang pada masa itu.

Orang Tionghoa di Palembang saat itu terkenal sebagai ahli dagang.

Tercatat pada 1916, pempek mulai dijajakan oleh penjual yang berjalan kaki dari kampung ke kampung, khususnya di kawasan Keraton (Masjid Agung dan Masjid Lama Palembang).

Pembeli biasa memanggil penjualnya dengan sebutan “empeq” atau “apeq“, dalam Bahasa Hokkian itu berarti paman.

Baca Juga  GenRe Gresik menggelar seleksi pemilihan Duta GenRe bersama BKKBN Gresik

Sampai akhirnya, makanan itu meluas dan namanya lebih dikenal dengan sebutan empek-empek.

Sumber : Kompas.com

Berikan Komentar Anda
error: Content is protected !!