
Dalam dunia ritel dan bisnis, khususnya di Indonesia, istilah Rojali dan Rohana belakangan ini semakin populer. Kedua istilah ini adalah akronim yang diciptakan untuk menggambarkan perilaku konsumen yang unik, terutama di pusat perbelanjaan atau mal. Meskipun terdengar lucu, fenomena ini mencerminkan dinamika ekonomi dan perubahan gaya hidup masyarakat.
Apa Itu Rojali dan Rohana?
Rojali adalah singkatan dari “Rombongan Jarang Beli.” Istilah ini merujuk pada sekelompok orang yang datang ke mal atau pusat perbelanjaan dalam jumlah banyak (rombongan), tetapi sangat jarang melakukan pembelian. Ciri-ciri Rojali antara lain:
- Hanya window shopping: Mereka datang untuk melihat-lihat barang, menikmati suasana, atau sekadar jalan-jalan tanpa ada niat belanja.
- Menggunakan fasilitas umum: Mereka memanfaatkan fasilitas gratis yang ada, seperti AC, Wi-Fi, tempat duduk, atau area foto yang menarik.
- Menghabiskan waktu: Mereka sering terlihat nongkrong di food court, area publik, atau toko-toko tanpa berinteraksi dengan penjual untuk membeli.
Rohana adalah singkatan dari “Rombongan Hanya Nanya.” Istilah ini merupakan pasangan dari Rojali. Rohana menggambarkan sekelompok orang yang mengunjungi toko-toko di mal dan banyak bertanya kepada penjual tentang produk, seperti harga, spesifikasi, atau ketersediaan, namun pada akhirnya tidak jadi membeli. Ciri-ciri Rohana meliputi:
- Penuh pertanyaan: Mereka aktif berinteraksi dengan staf toko, mengajukan banyak pertanyaan detail tentang produk.
- Tidak ada transaksi: Setelah mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan, mereka meninggalkan toko tanpa melakukan pembelian.
- Seringkali membandingkan: Perilaku ini juga bisa disebabkan karena mereka membandingkan produk dan harga, yang mungkin nantinya akan dibeli secara online.
Mengapa Fenomena Ini Muncul?
Fenomena Rojali dan Rohana bukanlah hal baru, tetapi semakin terasa dampaknya pasca-pandemi COVID-19. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya perilaku ini:
- Daya Beli Menurun: Salah satu alasan utama adalah tekanan ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat, terutama di kalangan menengah ke bawah. Mereka tetap ingin merasakan suasana rekreasi di mal, tetapi anggaran untuk belanja sangat terbatas.
- Perubahan Gaya Hidup: Mal tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat belanja, tetapi juga sebagai ruang publik untuk bersosialisasi dan mencari hiburan murah.
- Ketersediaan Informasi Online: Banyak konsumen yang menggunakan mal sebagai “showroom.” Mereka datang untuk melihat dan memegang produk secara langsung, tetapi kemudian membelinya secara daring (online) karena harganya bisa lebih murah.
- Kebutuhan Rekreasi: Bagi sebagian orang, datang ke mal adalah cara untuk melepaskan penat dan mencari hiburan tanpa harus mengeluarkan uang banyak.
Meskipun terlihat sepele, fenomena Rojali dan Rohana menjadi sorotan bagi para pelaku bisnis ritel. Pasalnya, meskipun jumlah pengunjung mal terlihat ramai, angka penjualan dan omzet seringkali tidak sebanding, yang dapat menjadi indikator perlambatan konsumsi di masyarakat.




