Tewasnya ‘Jenderal Mallaby’ pada Drama Kolosal Hari Pahlawan Pemkab Gresik

Sepertinya setting cerita mengambil sepenggal kisah saat terbunuhnya Jenderal Mallaby oleh para pejuang di depan gedung Internatio yang saat ada di sekitar Jembatan Merah Surabaya.

Diawali dengan keprihatinan Jenderal Sudirman tentang berkibarnya bendera belanda di hotel Oranye. Kemudian berkumpullah para tokoh guna menyikapi keadaan tersebut. Tamak Bung Tomo (Sambari Halim Radianto) KH. Hasyim Asyhari (Mohammad Qosim) dan Gubernur Suryo (Nadlif)

“Saudara-saudara, jangan mulai menembak. Baru kalau kita ditembak maka kita akan ganti menyerang mereka. kita tunjukkan bahwa kita orang-orang yang benar-benar ingin merdeka. Sikap kita, lebih baik hancur dari pada kita dijajah.” teriak tokoh Bung Tomo.

Sedangkan tokoh KH Hasyim Asyhari menyampaikan resolusi jihadnya.

Baca Juga  Surat Pemberitahuan Palsu Tentang Pemberian Donasi Tempat Ibadah Beredar di Gresik

“Bismillahirrohmanirohim, Hukum mempertahankan kemerdekaan dan membela tanah air bagi kita ummat Islam adalah Jihad fisabilillah. Niatkanlah menegakkan agama dan membela membela negara. Kalau kalian mati, InsyaAllah akan syahid dan masuk surga” ungkapnya.

Atas keprihatinan dan semangat bung Tomo tersebut pemuda Surabaya ngamuk. Surabaya pun akhirnya panas. Terjadi pertempuran selama tiga hari antara Brigade 49 dengan pejuang republik dari berbagai elemen.

Demi mengupayakan perdamaian mereka melakukan pawai bermobil di Surabaya. Pada 30 Oktober 1945. Rakyat di muka Gedung Internatio yang semula sudah tampak tenang, timbul amarahnya dengan beratus-ratus mengejar iring-iringan dan menutupi jalan hingga terpaksa rombongan berhenti. Mallaby sudah berada di luar mobil yang ia tumpangi sedang pistolnya oleh rakyat yang mengerumuninya sudah direbut. Rakyat yang sudah panas tak tahu siapa Mallaby. Disanalah Brigjen Aubertin Walter Sothern (A.W.S.) Mallaby tewas.

Baca Juga  Pria Tanpa Identitas Lempari Mobil Penyemprot Disinfektan di Gresik

Drama Kolosal yang dimainkan sangat bagus oleh Bupati dan Pejabat Pemkab Gresik. Halitu diakui oleh sang Sutradara Bambang Hermanto.

“Sangat bagus, saya tidak mengira bisa lancar dan bagus. Padahal tidak pernah latihan dan hanya sekali ketemu saat gladi bersih kemarin. Saat gladi bersih saja saya agak was-was. Selain banyak pemain yang gak hadir juga terkesan asal-asalan. Namun saat melihat pementasan barusan saya puas. Semuanya berjalan sesuai skenario” katanya.

Masih menurut Bambang, menggarap pementasan yang pemainnya para pejabat yang sibuk tidak mudah. Karena tidak adanya kesempaan latihan.

“Kami hanya memberikan plot cerita secara tertulis sekaligus meminta untuk menyiapkan propertynya. Ternyata mereka juga sukses. Bahkan saya melihat ada beberapa dialog diluar skenario, tapi tampak pas dan cerdas. Improvisasinya bagus” tambah Bambang sang Sutradara.

Baca Juga  Polisi Olah TKP, di Lokasi Tewasnya Pemuda 16 Tahun Asal Driyorejo Gresik

Berikan Komentar Anda
error: Content is protected !!