Wagub Emil Usulkan Empat Strategi Kendalikan Inflasi di Jatim

Surabaya – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengajak segenap Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Timur untuk menjaga lonjakan inflasi di Jatim. Wagub Emil pun mengusulkan empat strategi sebagai upaya pengendalian. Yakni, Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Mengingat Jatim kini tengah dalam masa masa tren pemulihan permintaan, kenaikan harga komoditas global, kenaikan harga-harga komoditas yang diatur oleh pemerintah, dan pengaruh cuaca. Terlebih, mendekati Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

“Kita harus mengendalikan laju inflasi di masa tren pemulihan permintaan, kenaikan harga komoditas global, kenaikan harga-harga komoditas yang diatur oleh pemerintah, dan pengaruh cuaca,” ungkap Wagub Emil saat menghadiri High Level Meeting dan Rapat Koordinasi Wilayah TPID Jatim di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jatim Jalan Pahlawan Surabaya, Selasa (19/4).

Baca Juga  Tunjungan Plaza 5 Surabaya Terbakar

“Untuk mencapai sasaran inflasi nasional, perlu penguatan dan optimalisasi strategi 4K. Ini melalui stabilisasi harga, penguatan pasokan, kerjasama perdagangan antar daerah, peningkatan infrastruktur perdagangan, perbaikan kualitas data, serta penguatan koordinasi pusat dan daerah,” tambahnya.

Mantan Bupati Trenggalek itu menambahkan, kelancaran produksi akan menciptakan nilai tambah yang tinggi. Ungkapnys, ini dapat tercapai dengan optimalisasi hulu-hilir komoditas potensial.

“Nilai tambah yang tinggi melalui peningkatan produktivitas komoditas potensial, penguatan supply management, serta aktivasi jalur perdagangan.

Emil juga menekankan, tantangan struktural berupa masih tingginya disparitas harga antar Kabupaten/kota dan tingginya harga pangan di beberapa daerah pusat turut menjadi perhatian. 

“Disparitas harga antar Kab/Kota di Jawa Timur masih relatif tinggi khususnya untuk komoditas-komoditas penyumbang inflasi utama terutama pada periode mendekati HBKN Ramadhan dan Idul Fitri,” sebutnya.

Baca Juga  Mengintip 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes 2022

Karena itu, sinergi antar daerah dalam mendukung stabilitas harga dan ketersediaan pasikan menjelang hari besar keagamaan nasional menjadi!hal yang perlu disoroti.

“Diperlukan sinergi dan koordinasi intens dari seluruh pihak terkait yang berkontribusi dalam mengoptimalkan peta hulu-hilir komoditas di Jawa Timur,” katanya.

Rata-rata harga enam komoditas utama (beras, daging ayam ras, daging sapi, telur ayam ras, cabai merah, cabai rawit) pada Maret 2022 terpantau meningkat dibandingkan Februari 2022. 

Komoditas pendorong inflasi di Jatim diketahui paling dipengaruhi oleh cuaca. Utamanya, mengingat cabai rawit menjadi komoditas kontributor inflasi nomor satu. Produksi cabai rawit diketahui mencapai 155.817 ton per bulan, dengan 13.06 ton konsumsi per bulan dan 142.611 ton surplus/defisit per bulan.

Hal ini didorong juga oleh peningkatan musiman memasukin HBKN Ramadhan dan Idul Fitri. Di mana kue kering berminyak, telur ayam ras, emas perhiasan, dan minyak goreng turut menjadi kontributor inflasi. Juga sebagai informasi, menurut data BPS, Sebagai informasi, inflasi terendah Jawa Timur terdapat di Banyuwangi, dengan hanya berada di angka 2.19%. 

Baca Juga  Peringati Nuzulul Quran bersama Gus Miftah, Gubernur Khofifah Ingatkan Pentingnya Literasi di Era Digital

“Kue kering, telur ayam ras, emas perhiasan, dan minyak goreng juga menambah tingkat inflasi. Sedangkan, komoditas penekan inflasi di antaranya tomat, kepiting atau rajungan, batu bata, ketela, cumi-cumi, dan beras,” sambung Emil.

Di akhir, Emil berharap agar High Level Meeting ini dapat menjadi forum bagi TPID Jatim untuk menemukan solusi bagi permasalahan di seputar lonjakan inflasi.

“Semoga meeting ini dapat digunakan sebagai platform untuk menemukan solusi,” tutupnya. (Red)

Berikan Komentar Anda