
Penindasan perempuan berlaku secara universal. Baik Perempuan kalangan priyayi maupun perempuan jelata tertimpa penindasan. Kartini hidup dalam pusaran kekuatan pasung terhadap perempuan.
Atas pijakan dari semua itu, Kartini mencetuskan perubahan besar bagi kebangkitan perempuan Indonesia. R.A. Kartini tidak menyebutkan emansipasi wanita yang diperjuangkannya seperti apa. Karena jauh sebelum mengenal kata emansipasi itu sendiri, R.A. Kartini telah memiliki konsep perjuangan untuk membela hak-hak perempuan.
Bagi Kartini, Pendidikan merupakan hal-ikhwal yang penting untuk dimiliki Perempuan.
Logikanya adalah pendidikanlah yang dibutuhkan oleh perempuan pada zamannya, sesuatu yang menjadi landasan taktis perempuan untuk setara.
Tidak hanya pendidikan yang ia perjuangkan pada sat itu, Kartini juga mengekang pernikahan dini dan juga pernikahan dengan dalih keterpaksaan. Kartini melihat, bahwa perempuan semestinya memperolah kebebasan, otonomi dan persamaan hukum.
Akan tetapi degradasi perjuangan Kartini begitu kentara dalam realitas sosial masyarakat. Emansipasi Kartini dicitrakan dengan memeriahkan peringatan hari Kartini dengan pemakaian kebaya oleh seluruh remaja putri.
Lebih lagi Emansipasi Kartini di nina bobokan dengan pengagungan ibuisme terhadap perempuan. Pujian-pujian manis seperti Ibu kota dan perempuan sebagai tiang negara mengembalikannya pada ruang domestik.




