
Bahkan kampaye-kampanye kuota 30% untuk keterlibatan perempuan dalam ekpresi politik, menempatkan perempuan sebagai pelengkap.
Lebih lagi, kebijakan afirmatif tersebut menunjukkan titik nadir pembebasan perempuan. Seharusnya partisipasi perempuan dalam ruang publik diberikan hak yang setara dengan laki-laki.
Singkatnya, Kartini merupakan Perempuan terbaik pada zamannya. Ia merupakan sosok kebangkitan perempuan yang terporak-poranda oleh pusaran budaya patriarki dan feodalisme.
Kartini telah berperan sebaik-baiknya dalam pembebasan perempuan. Oleh karena itu sosoknya kian tepat untuk menjadi patron bagi perjuangan perempuan. Akan tetapi kompleksitas persoalan Perempuan dalam masa sekarang mengharuskan gerakan perempuan saat ini untuk memiliki startegi yang berkesesuaian dengan konteks sekarang.
Pejuang perempuan Indonesia harus menemukan esensi dari Emansipasi Kartini.
Bukan memeriahkan peringatan hari Kartini dengan pemakaian kebaya oleh seluruh remaja putri, maupun beromantisme dengan sejarah perjuangan Kartini.
Melainkan menciptakan syarat materiil untuk mengembalikan perempuan pada posisinya sebagai manusia yang berdaulat.
Artikel kiriman dari Netizen Gresik (Muhammad Dimas Rizal)
https://www.facebook.com/unyill.riezall




