Petrokimia Gresik Menghasilkan Rp250 Miliar dari Inovasi

  • Share
Petrokimia Gresik Menghasilkan Rp250 Miliar dari Inovasi

Gresik – Petrokimia Gresik menghasilkan pendapatan sebesar Rp250 miliar melalui inovasi yang menciptakan nilai tambah produk. Direktur Utama Petrokimia Gresik Dwi Satriyo Annurogo menjelaskan, 25 persen atau Rp64,9 miliar dari total revenue itu berkontribusi langsung terhadap laba perusahaan (direct financial benefit).

“Para inovator telah melakukan improvement serta memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan. Sebab melalui inovasi, Petrokimia Gresik terbukti bisa terus tumbuh dan mampu menjawab berbagai tantangan di tengah pandemi,” kata Dwi dalam keterangan tertulis, Kamis, 23 September 2021.

Dwi mengungkapkan keterlibatan karyawan dalam gelaran konvensi inovasi juga perlu diapresiasi. Sebanyak 71,2 persen dari total karyawan tergabung dalam 1.039 gugus inovasi.

Baca Juga  Beberapa Layanan Google dan YouTube DOWN

“Ini menjadi bukti bahwa Inovasi telah menjadi DNA bagi Insan Petrokimia Gresik dan telah menjadi bagian dari strategi pengembangan perusahaan,” ucap Dwi.

Dwi berharap konvensi inovasi mampu menjadi katalis dalam percepatan pertumbuhan perusahaan. Ia juga berharap konvensi inovasi bisa mendorong generasi milenial untuk terus berpikir kreatif dan inovatif.

“Perusahaan membutuhkan berbagai terobosan untuk menjadi solusi agroindustri dan mewujudkan pertanian berkelanjutan. Melalui inovasi, perusahaan telah banyak melakukan perbaikan dan peningkatan dari segi kualitas produk, proses bisnis, optimalisasi teknologi, pelayanan, organisasi, dan sebagainya,” ucapnya.

Adapun inovasi yang diciptakan Petrokimia Gresik melalui Gugus Inovasi Operasional (GIO) Digital Office ialah mampu menurunkan frekuensi masalah penciptaan naskah dinas dan mempercepat prosesnya. Inovasi tersebut mampu menyumbang penghematan sebesar Rp839,6 juta dalam waktu 13 bulan.

Baca Juga  Petrokimia Gresik jadikan Sembalun Lombok percontohan budi daya kentang

Selanjutnya, inovasi dari GIO Fleksi berhasil menurunkan downtime pabrik urea karena kegagalan bahan baku dari 67,7 jam per bulan menjadi 31,5 jam per bulan. Inovasi ini mampu menghasilkan potensi penghematan hingga Rp252 miliar dalam waktu tujuh bulan.

Sedangkan Sistem Saran (SS) Kuantitatif mampu menjaga kualitas Pupuk ZA impor agar tetap sesuai standar dengan Metode Volumetri, sehingga mengurangi potensi kerugian perusahaan akibat komplain dari end-user.

Terakhir, SS Slundar Slundur sukses memanfaatkan limbah padat hasil kolam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebagai bahan baku filler pada Pupuk NPK. Berdasarkan perhitungan verifikasi kinerja keuangan, penerapan inovasi tersebut menghasilkan penghematan sebesar Rp2,9 miliar dalam setahun.

Baca Juga  Musim Hujan, Ini Cara Jaga Daya Tahan Tubuh Anak

Sumber: Medcom.id

Berikan Komentar Anda
  • Share