Bagaimana penanganan stunting pada bayi anak?
Meski stunting berdampak hingga dewasa, kondisi ini bisa ditangani dengan cara yang baik.
Melansir dari Buletin Stunting menurut Kementerian Kesehatan RI, stunting dipengaruhi oleh pola asuh, cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan, lingkungan, serta ketahanan pangan.
Salah satu penanganan pertama yang bisa dilakukan untuk anak dengan tinggi badan di bawah normal yang didiagnosis stunting, yaitu dengan memberikannya pola asuh yang tepat.
Dalam hal ini meliputi inisiasi menyusui dini (IMD), pemberian ASI Eksklusif sampai usia 6 bulan, serta pemberian ASI bersama dengan MP-ASI sampai anak berusia 2 tahun.
World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) menganjurkan agar bayi usia 6-23 bulan untuk mendapatkan makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang optimal.
Ketentuan pemberian makanan tersebut sebaiknya mengandung minimal 4 atau lebih dari 7 jenis makanan.
Jenis makanan ini meliputi serealia atau umbi-umbian, kacang-kacangan, produk olahan susu, telur atau sumber protein lainnya, sayur dan buah kaya vitamin A atau lainnya.
Di sisi lain, perhatikan juga batas ketentuan minimum meal frequency (MMF), untuk bayi usia 6-23 bulan yang diberi dan tidak diberi ASI, dan sudah mendapat MP-ASI.
Untuk bayi yang diberi ASI
- Umur 6-8 bulan: 2 kali per hari atau lebih
- Umur 9-23 bulan: 3 kali per hari atau lebih
Sementara itu untuk bayi yang tidak diberi ASI usia 6-23 bulan yaitu 4 kali per hari atau lebih.
Bukan itu saja, ketersediaan pangan di masing-masing keluarga turut berperan dalam mengatasi stunting.
Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan meningkatkan kualitas makanan harian yang dikonsumsi.




