Sembelit
Kelebihan protein juga dapat menyebabkan sembelit.
Dalam studi yang sama, 44 persen peserta melaporkan sembelit akibat terlalu banyak mengonsumsi protein.
Diet tinggi protein yang membatasi asupan karbohidrat umumnya rendah serat sehingga memicu sembelit.
Dengan meningkatkan asupan air dan serat, dapat membantu mencegah sembelit.
Diare
Mengonsumsi terlalu banyak produk susu atau olahannya, ditambah dengan kekurangan serat, bisa menyebabkan diare.
Terutama bagi Anda yang mengalami intoleransi laktosa atau mengonsumsi sumber protein seperti daging, ikan, dan ayam.
Untuk menghindari diare, banyak minum air putih, hindari minuman berkafein, batasi makanan yang digoreng dan konsumsi lemak berlebih, serta tingkatkan asupan serat.
Dehidrasi
Tubuh membuang kelebihan nitrogen. Kondisi ini menimbulkan dehidrasi meski Anda tak merasa haus.
Sebuah studi kecil menemukan, saat asupan protein meningkat, tingkat hidrasi justru menurun.
Namun, di studi yang lain menyimpulkan bahwa mengonsumsi lebih banyak protein berdampak minimal pada hidrasi.
Risiko atau efek ini dapat diminimalkan dengan meningkatkan asupan air Anda, terutama jika Anda adalah orang yang aktif.
Terlepas dari konsumsi protein, selalu penting untuk minum banyak air sepanjang hari.
Kerusakan ginjal
Mengonsumsi tinggi protein dapat menyebabkan kerusakan ginjal pada orang dengan penyakit ginjal yang sudah ada sebelumnya.
Hal ini disebabkan oleh nitrogen berlebih yang ditemukan dalam asam amino penyusun protein.
Ginjal yang rusak harus bekerja lebih keras untuk membuang nitrogen dan produk limbah metabolisme protein.
Secara terpisah, sebuah studi pada 2012 mengamati efek diet rendah karbohidrat, tinggi protein dan rendah lemak pada ginjal.
Hasilnya, pada orang dewasa obesitas yang sehat, diet rendah karbohidrat, tinggi protein selama dua tahun tidak terkait dengan efek berbahaya yang nyata pada filtrasi ginjal, albuminuria, atau keseimbangan cairan dan elektrolit dibandingkan dengan diet rendah lemak.




