Mendengar penolakan itu, Jenderal Imamura mengeluarkan ultimatum.
Bila pada pagi hari 8 Maret 1942 pukul 10.00 para petinggi Belanda belum juga berada di Kalijati, maka Bandung akan dibom sampai hancur.
Sebagai bukti bahwa ancaman itu bukan sekadar gertakan, sejumlah besar pesawat pengebom Jepang disiagakan di Landasan Udara Kalijati.
Melihat perkembangan yang semakin mengkhawatirkan, Jenderal Ter Poorten pemimpin Angkatan Perang Hindia Belanda dihadapkan pada situasi kritis.
Letjen Ter Poorten dan Gubernur Tjarda mengutus Mayjen JJ Pesman, untuk menghubungi Komandan Tentara Jepang dalam upaya melakukan perundingan.
Namun utusan Belanda ini ditolak mentah-mentah Panglima Imamura. Dia hanya mau berbicara dengan Panglima Tentara Belanda atau Gubenur Jenderal.
Perundingan singkat
Pertemuan yang semula direncanakan di Jalan Cagak Subang, akhirnya berlangsung di rumah dinas seorang perwira staf Sekolah Penerbang Hindia Belanda di Lanud Kalijati pada 8 Maret 1942.
Rumah itu kini menjadi Museum Rumah Sejarah yang lokasinya berada di Komplek Garuda E-25 Lanud Suryadarma, Kalijati, Subang Jawa Barat.
Transkrip perundingan Kalijati dimuat oleh Harian Asia Raya dengan judul “Peristiwa Akhir Sedjarah Pemerintah Belanda di Indonesia” pada 9 Maret 1943.
Imamura: Apakah tuan sanggup membicarakan di sini tentang menyerah atau meneruskan perang?
Tjarda: Itu tidak bisa.
Imamura: Apa sebabnya?
Tjarda: Bahwa kami sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda, sampai pada akhir ini mempunyai hak memimpin balatentara. Tapi baru-baru ini hak tertinggi ini dijabat kembali oleh Wilhelmina.
Ter Poorten: Saya pun tidak mempunyai hak sedemikian.




