Hari ini dalam Sejarah: Belanda Serahkan Indonesia ke Jepang

Imamura: Jika demikian, tuan-tuan datang kemari untuk apa? Apa sebabnya memajukan penghentian perang pada tanggal 7 kemarin dengan memakai utusan militer?
Tjarda: Kami memajukan penghentian perang karena kita tak tahan hati bahwa kota Bandung akan mengalami bencana yang lebih hebat daripada ini dan hendak membuka pintu Bandung untuk Balatentara Nippon.

Imamura: Kalau begitu, balatentara (Belanda) menyerah seluruhnya saja.
Tjarda: Saya tidak berhak. Hanya Wilhelmina yang mempunyai kuasa. Dan untuk mengadakan perhubungan dengan Wilhelmina tidak mungkin.

Pihak Belanda terus mengelak dan berdalih tak berkuasa. 

Imamura gusar dengan jawaban yang berputar-putar. Ia menegaskan hanya meminta penyerahan diri Belanda atau melanjutkan perang.

Imamura: Apakah Tuan men­jerah tanpa syarat?
Ter Poorten: Saya hanya dapat menyampaikan kapitulasi Bandung.
Imamura: Jika maksud Tuan hanya hendak menyerahkan Bandung dan tidak mau menyerah, sebagaimana yang tuan pertahankan, tak berguna lagi untuk meneruskan pembicaraan ini. Berarti tuan memilih melanjutkan perang.
Ter Poorten: Suatu hal yang nyata bagi kami ialah bahwa tentara Belanda sudah terang dan nyata tiada dapat melawan Nippon.

Pengakuan Ter Poorten membuat Tjarda marah. Tjarda tak mau menyerah. Ia menginginkan perang diteruskan lewat gerilya dengan pangkalan di daerah Bandung selatan.

Baca Juga  Selamat Hari Guru Nasional

Namun perundingan di Kalijati itu tak berlangsung lama. Saat itu juga, Ter Poorten dan Tjarda secara resmi menandatangi dokumen kapitulasi atau penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda kepada Jepang.

Imamura memberi waktu kepada Belanda untuk menyerahkan senjata dan mengentikan perang. Ia meminta penyerahan diri Belanda diumumkan lewat radio.

Keesokan harinya, 9 Maret 1942, setelah radio mengumumkan penyerahan diri Belanda pukul 10.00 Ter Poorten menghadap Imamura. Ia datang tanpa Tjarda.

Ter Poorten: Tadi pagi disiarkan dengan perantara radio bahwa kami menyerah sebagai panglima tertinggi Hindia Belanda. Akan tetapi kurang terang pula, apakah siaran ini sampai pada tentara Hindia Belanda seluruhnya.
Imamura: Cukuplah jika Tuan bersumpah menyerah sebagai panglima tertinggi. Kami mengakui kesengsaraan tuan. Kami sangat iba hati, sebagai Panglima Tertinggi Balatentara Dai Nippon.

Keduanya lalu digiring masuk ke kamp tahanan sebagai tawanan perang.

Baca Juga  Pelayanan Sim di satlantas Polres Gresik Libur 24-25 Desember 2019

Tjarda awalnya ditahan di sebuah rumah di Bandung. Ia kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin.

Pada 2 Januari 1943, bersama tawanan internasional lainnya, Tjarda dibawa ke Formosa (Taiwan).

Source: Kompas.com