
Harapan untuk negosiasi perdamaian pertama kali diangkat pada 2013, saat Taliban mengumumkan akan membuka kantor di Qatar. Namun ketidakpercayaan antarpihak masih tinggi dan kekerasan terus berlanjut.
Pada Agustus 2015, Taliban mengakui mereka menutup-nutupi kematian Mullah Omar yang diberitakan karena masalah kesehatan di sebuah rumah sakit di Pakistan selama lebih dari dua tahun.
Di bulan berikutnya, kelompok itu menyatakan telah mengesampingkan pertikaian selama beberapa minggu untuk memilih pemimpin mereka yang baru, Mullah Mansour, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil Mullah Omar.
Pada waktu nyaris bersamaan, Taliban merebut kekuasan ibu kota provinsi untuk pertama kalinya sejak kekalahan mereka pada 2001. Mereka menguasai Kunduz, kota yang penting dan strategis.
Mullah Mansour tewas dalam serangan udara AS pada Mei 2016 dan digantikan oleh wakilnya Mawlawi Hibatullah Akhundzada, yang hingga kini masih memimpin kelompok ini.
Hitung mundur penarikan pasukan
Pada tahun setelah kesepakatan damai AS-Taliban pada Februari 2020 — yang merupakan puncak dari pembicaraan yang panjang — Taliban tampaknya mengubah taktik, dari serangan kompleks di kota-kota besar dan pos-pos militer ke gelombang pembunuhan yang menargetkan masyarakat sipil Afghan.
Namun dari targetnya jurnalis, hakim, aktivis perdamaian, perempuan dengan posisi kekuasaan tampaknya Taliban tidak mengubah ideologi ekstremisnya, melainkan hanya strategi mereka.
Meskipun pemerintah Afghanistan telah menyatakan kekhawatirannya, Presidan AS Joe Bidan mengumumkan pada April 2021 bahwa semua pasukan Amerika akan meninggalkan negara tersebut pada 11 September. Dua dekade setelah jatuhnya World Trade Center.
Setelah berhasil menumbangkan kekuatan besar AS selama dua dekade perang, Taliban mulai merebut wilayah-wilayah Afghanistan.
Kelompok ini diperkirakan kini memiliki lebih banyak jumlah daripada ketika mereka digulingkan pada 2001 NATO memperkirakan mereka memiliki sekitar 85.000 petarung penuh waktu.
Serangan dan keberhasilan mereka merebut wilayah jauh lebih cepat dari perkiraan banyak orang. Jenderal Austin Miller, komandan misi pimpinan AS di Afghanistan memperingatkan pada Juni, bahwa negara itu kemungkinan menuju perang saudara yang kacau.
Dalam banyak kasus, Taliban mampu mengambil alih kota-kota besar tanpa perlawanan, karena pasukan pemerintah menyerah untuk menghindari jatuhnya korban sipil.
Sebuah penilaian intelijen AS pada bulan yang sama dilaporkan menyimpulkan bahwa pemerintah Afghanistan bisa kolaps dalam waktu enam bulan setelah pasukan AS angkat kaki dari negara tersebut.
Sumber : BBC NEWS INDONESIA






