Giri Pusat Agama Yang Pertama di Jawa “Buya Hamka

Tetapi mereka singgah lebih dahulu di Pasai Aceh, menuntut ilmu kepada Ulama di sana. Dan di sana pula, Raden Paku berjumpa kembali dengan ayahnya.

Foto lama gerbang makan Sunan Giri sumber foto perpustakaan universitas Leiden

Ilmu yang dipandang menjadi inti segala ilmu di waktu itu, atau yang disebut “ilmu sejati” ialah Ilmu Ketuhanan menurut ajaran Tasauf.
Banyak Ulama keturunan India dan Persia membuka pengajian di Pasai di waktu itu. Sehingga Ulama-ulama di Malaka kalau ada yang tersangkut, bertanya juga ke Pasai.

Setelah kedua pemuda itu, Makhdum Ibrahim dan Raden Paku mendapat ijazah dari guru,
mereka pun kembali ke tanah Jawa. Di antara mereka berdua, Raden Paku pula yang berhasil mendapat “ilmu ladunni”, artinya ilmu yang langsung diterima dari Tuhan, sehingga gurunya di Pasai memberinya nama yang tinggi, yaitu “Ainul Yaqin”.

Baca Juga  Antisipasi Kelangkaan Sembako, Polsek Duduksampeyan Cek Stok Sembako Di Beberapa Toko

Sebab itu siasat mereka menyebarkan Islam pun berjalan menurut bakat masing-masing. Sunan Bonang memasukkan pengaruh Islam ke dalam kalangan orang atas, ke Kraton Majapahit, dan membuat tempat berkumpul murid-muridnya di Demak. Sedang Syekh Ainul Yaqin mengadakan tempat berkumpul di Giri, terdiri dari “orang kecil”.

Jika Bonang menanamkan pengaruh ke dalam, maka Sunan Giri selalu mengirim utusan ke luar Jawa. Terdiri dari pelajar, saudagar, dan nelayan.

Dari pulau Madura sampai Bawean dan Kangean, bahkan sampai ke Ternate dan Haruku.

Siasat Bonang memberi didikan Islam kepada Raden Patah putra Raden Majapahit, dan terlebih dahulu menyediakan Demak (Bintoro) untuk menegakkan Negara Islam yang pertama, nampak berat kepada politis. Dan siasat Sunan Giri meagajarkan Agama Islam dan mengirim Muballigh ke mana-mana adalah siasat mendekati masyarakat.

Baca Juga  Kebanyakan Kaktus Berbatang Hijau dan Berduri, Mengapa Begitu, ya?

Sunan Bonang berhasil maksudnya mendirikan kerajaan Demak.Tetapi harapannya agar Demak menjadi pusat Islam selama-lamanya tidak berhasil. Setelah naik hanya tiga orang raja (Raden Patah dan Patih Unus, bergelar Pangeran Terenggano), dirampas oleh Adiwijoyo Adipati Pajang (1596).