Giri Pusat Agama Yang Pertama di Jawa “Buya Hamka

relief makan Sunan Giri I di Gresik  sumber: perpustakaan universitas Leiden
relief makan Sunan Giri I di Gresik sumber: perpustakaan universitas Leiden

Dan dari Pajang dirampas pula oleh Ki Gede Pamanahan dan dipindahkan ke Mataram, dan sampai di sana banyaklah ajaran Islam dicampurkan dengan ajaran Hindu dan Budha.

Tetapi kedudukan Giri tetap teguh sebagai pusat keagamaan. Anak cucu Sunan Giri
mempertahankan keistimewaan Giri sebagai pusat agama, sampai seketika Mas Rangsang hendak memakai gelar Sultan – kata lantikan dari Giri -.

Dan kemudian setelah dilihatnya keislaman Mataram telah banyak berubah, Sunan Giri membantu. Adipati Surabaya dan Adipati-adipati Madura berontak melawan Mataram (1615).

Tahun 1625 masih berperang. Adipati-adipati Jawa Timur melawan Mataram, dan Sunan Giri tetap pelopor. Tetapi perlawanan itu kalah dan Sunan Giri tertawan dan dibawa ke Mataram. Kemudian diantarkan pulang ke Giri kembali, dan diturunkan gelar kebesarannya dari Sunan menjadi Panembahan.

Baca Juga  Antisipasi Kelangkaan Sembako, Polsek Duduksampeyan Cek Stok Sembako Di Beberapa Toko

Tetapi setelah Sultan Agung wafat dan digantikan oleh puteranya Amangkurat I, Trunojoyo berontak pula, melawan Sunan Amangkurat dan Kompeni. Trunojoyo dibantu oleh Karaeng Galesong dari Makasar (1675) Trunojoyo diakui sebagai Kepala Perang Sabil.

Turunan-turunan Ulama Giri pun aktif membantu perlawanan itu.

Sebab itu tidaklah heran, jika Trunojoyo dapat dikepung di lereng Utara Gunung Kelud dan
dapat ditawan oleh Kapiten Jonker (orang Ambon), dan dihukum bunuh (ditikam dengan keris) oleh Amangkurat II (27 Desember 1679), maka yang langsung diserang besar-besaran oleh tentara Belanda dan Mataram ialah Giri!

Sebab Girilah rupanya latar belakang perlawanan yang tidak putus-putusnya dari Jawa Timur. Pangeran Giri, keturunan yang paling akhir dari Syekh ‘Ainul Yaqin, Raden Paku, ditahan dan dihukum mati pula.

Baca Juga  Kebanyakan Kaktus Berbatang Hijau dan Berduri, Mengapa Begitu, ya?

Keris kebesaran Giri yang bersejarah, yang
telah turut mengalahkan Majapahit bertahun-tahun lamanya ditahan di Mataram. Sejak itu Giri tidak bangun lagi!

Setelah itu untuk menghilangkan anasir-anasir yang berbahaya di antara 5.000 dengan 6.000
kaum kiyahi dan santri, dihukum bunuh di muka umum. Jangan orang menyebut-nyebut juga agama Islam yang bersih dan Tauhid yang khalis!

Dan semuanya itu dilakukan seketika pengaruh Belanda mulai tertancap dalam Kerajaan
Mataram.

Demikianlah kisah pendek dari bukit Giri, di dekat Gresik, yang di zaman sekarang pun menjadi tempat yang penuh kenang-kenangan, dan indah dihembus angin laut.

Dikutip dari buku karya Prof DR Buya Hamka: “Dari Perbendaharaan Lama”. Buku ini berisi kumpulan tulisan Buya Hamka.

Baca Juga  Kontribusi PT Smelting Di Stadion GJS Gresik